<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pikiran dan Cerita</title>
	<atom:link href="http://tdipokusumo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tdipokusumo.wordpress.com</link>
	<description>&#34;The only limit to our realization of tomorrow will be our doubts of today&#34; - Franklin Roosevelt</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 May 2010 03:30:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tdipokusumo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/4cfdb734553b47142e9549e630a270ce?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Pikiran dan Cerita</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tdipokusumo.wordpress.com/osd.xml" title="Pikiran dan Cerita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tdipokusumo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan Green Canyon dan Sungai Citumang</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/05/23/catatan-perjalanan-green-canyon-dan-sungai-citumang/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/05/23/catatan-perjalanan-green-canyon-dan-sungai-citumang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 03:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Pangandaran, sebuah kota kecil di daerah Ciamis yang memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Jika seseorang ditanya kesan apa yang pertama kali muncul ketika mendengar nama Pangandaran, sebagian besar pasti akan menjawab &#8216;pantai&#8217;.  Konotasi pantai memang melekat di pangandaran, pantai telah menjadi &#8216;icon&#8217; dari Pangandaran. Pangandaran memang memiliki banyak tempat wisata laut yang sudah terkenal, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=160&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pangandaran, sebuah kota kecil di daerah Ciamis yang memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Jika seseorang ditanya kesan apa yang pertama kali muncul ketika mendengar nama Pangandaran, sebagian besar pasti akan menjawab &#8216;pantai&#8217;.  Konotasi pantai memang melekat di pangandaran, pantai telah menjadi &#8216;icon&#8217; dari Pangandaran. Pangandaran memang memiliki banyak tempat wisata laut yang sudah terkenal, seperti Batu Karas, Batu Hiu dan Pantai Pangandaran itu sendiri. Akan tetapi, berdasarkan kunjungan beberapa waktu lalu, obyek wisata yang paling bagus di Pangandaran justru bukanlah pantai atau lautnya melainkan sungai-sungai yang berada di sekitar pantai tersebut, seperti Green Canyon dan Sungai Citumang.</p>
<p>Berikut adalah catatan mengenai Green Canyon dan Sungai Citumang dimana eksotisme kedua tempat tersebut terlalu membekas di memori saya sehingga ingin rasanya untuk kembali dan kembali lagi.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Green Canyon/Cukang Taneuh<br />
</strong></span></p>
<p>Green Canyon merupakan tempat wajib kunjung di Pangandaran. Ini adalah obyek wisata yang berpotensi menjadi unggulan dari wisata Pangandaran. Green Canyon atau Cukang Taneuh merupakan sebuah sungai yang awalnya merupakan sungai dimana masyarakat setempat seringkali membuang sesajen dan bahkan menurut mitos lama, ia merupakan tempat dimana para sesepuh seringkali bertapa.</p>
<p>Nama Green Canyon sendiri menurut penuturan kisah penduduk setempat yang menjadi pemandu kami, datang dari seorang peneliti Amerika bernama Bill. Pada masanya, Bill adalah peneliti biawak dan sedang mengadakan penelitian mengenai biawak di sekitar Cukang Taneuh pada tahun 1987an.</p>
<p>Dalam aktivitasnya tersebut, ia menemukan bahwa sepanjang sungai Cukang Taneuh memiliki pemandangan alam sekitar yang mirip sekali dengan Grand Canyon di Amerika hanya saja ia lebih kaya dengan biota tanaman dan tumbuhan sehingga tampak lebih hijau. Maka dari itu, Bill menamakan sungai itu Green Canyon dan kemudian berita itu tersebar dari mulut ke mulut dan lebih banyak lagi orang bule datang untuk menjelajah eksotisme dari Green Canyon.</p>
<p>Menurut pemandu kami, orang-orang bule merupakan orang pertama yang menjelajah Green Canyon pertama kali, jadi bisa dibilang orang Indonesia terlambat mengetahui potensi daerah itu dibandingkan orang asing, dan di sekitar tahun 2002 baru pemerintah daerah setempat mengambil alih hak kelola atas wisata green canyon namun dikarenakan publik (terutama orang asing) lebih mengenal dengan penamaan &#8220;Green Canyon&#8221;, maka hingga saat ini nama green canyon menjadi nama resmi dan &#8216;pengganti&#8217; dari nama aslinya Cukang Taneuh.</p>
<p>Aktivitas wisata utama yang dapat dilakukan disini adalah body rafting. Body rafting ini tidak menggunakan rakit atau kapal melainkan kita berenang dengan pelampung menyusuri sungai. Terdapat banyak penduduk lokal sebagai penyedia paket jasa body rafting dengan harga yang tidak begitu mahal karena dengan 875ribu untuk sekitar 7 orang anda sudah mendapatkan pemandu (2), mobil bak menuju sungai di desa kertayasa, peralatan rafting lengkap (helm, pelampung, decker), kelapa muda dan makan siang.</p>
<p>Kami menggunakan jasa Pak Azwi (masyarakat setempat) sebagai penyedia jasa body rafting kami. Sesampai di dermaga Green Canyon dan bertemu</p>
<div id="attachment_174" class="wp-caption alignleft" style="width: 204px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1021.jpg"><img class="size-medium wp-image-174" title="GC_Mei 2010 102" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1021.jpg?w=194&#038;h=145" alt="" width="194" height="145" /></a><p class="wp-caption-text">mengikuti arus sungai</p></div>
<p>kenal dengan Pak Azwi, kami langsung mengenakan peralatan rafting mulai dari helm, pelampung dan decker. Kemudian, setelah semua orang mengenakan peralatannya, kami menaiki mobil bak terbuka menuju Desa Kertayasa. Jalan menuju Desa Kertayasa sangat rusak dan berliku sehingga alangkah lebih baik menempuhnya dengan menggunakan kendaraan bak terbuka milik penduduk setempat dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Setelah kurang lebih 20 menit menyusuri Desa Kertayasa, akhirnya kami sampai di starting point, setelah itu kami harus berjalan menuju sungai tempat kami memulai petualangan kami dengan sangat hati-hati sepanjang 500 meter karena jalanan sepetak yang licin dan menukik ke bawah dan berliku. Jika terpeleset maka anda bisa saja langsung jatuh ke jurang karena pinggiran anda adalah jurang-jurang menukik ke bawah.</p>
<p>Sesampainya di sungai, kami melihat debit air sedang bagus, air sangat jernih dan belum saja kami memulai body rafting kami sudah disuguhi pemandangan di sekitar sungai yang indah. Dari puncak starting point tersebut, anda dapat</p>
<div id="attachment_167" class="wp-caption alignright" style="width: 246px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-061.jpg"><img class="size-medium wp-image-167" title="GC_Mei 2010 061" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-061.jpg?w=236&#038;h=157" alt="" width="236" height="157" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan Green Canyon (Starting Point)</p></div>
<p>melihat aliran sungai green canyon yang begitu jernih diapit oleh bukit-bukit yang membuat landscape tersebut enak untuk dilihat selama bermenit-menit. Ketika memulai petualangan body rafting, kami sudah harus melompat dari batu menuju sungai dan setelah itu kami tinggal mengikuti kemana arus akan membawa kami. Di beberapa spot kami terpaksa harus berdiri dan berjalan menyusuri batu-batu sungai untuk kemudian terjun kembali ke dalam sungai. Batu-batu tersebut sangatlah tajam dan lumayan membuat kaki serasa seperti di pijat refleksi sehingga disarankan untuk anda menggunakan sendal gunung ketika body rafting demi melindungi telapak kaki anda dari tajamnya batu-batu sungai yang menghadang anda.</p>
<p>Selama rafting sering-seringlah anda menoleh ke belakang karena anda akan menemukan sebuah frame pemandangan terdiri dari sungai dengan air yang</p>
<div id="attachment_176" class="wp-caption alignleft" style="width: 197px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1221.jpg"><img class="size-medium wp-image-176" title="GC_Mei 2010 122" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1221.jpg?w=187&#038;h=139" alt="" width="187" height="139" /></a><p class="wp-caption-text">Seringlah menoleh ke belakang jika anda sedang body rafting, nanti pemandangan seperti inilah yang sering anda jumpai</p></div>
<p>jernih diapit dengan bukit di kiri dan kanan serta batu kali di tengah sungai tersebut, itulah eksotisme pemandangan Green Canyon, dan karena pemandangan seperti itulah yang membuat saya ketagihan terhadap tempat ini. Frame seperti itu seakan menghilangkan rasa lelah dari rafting dan sebanyak apapun dijepret ke dalam foto digital tetap terasa tidak cukup karena the best way to experiencing it adalah dengan melihat langsung.</p>
<p>Di penghujung jalan, kami memasuki sebuah goa dengan banyak batu staglanit di sekitar goa tersebut. Goa ini tidak seperti goa pada umumnya yang gelap, karena ia diapit oleh bukit dan agak terbuka sehingga sinar matahari banyak masuk. Jika anda berada dalam goa ini cobalah tanjaki pemandian putri karena disitu terdapat spot untuk foto yang bagus sekali dengan pemandangan GC. Dari pemandian putri tersebut kita juga bisa melihat frame pemandangan Green Canyon secara utuh.</p>
<div id="attachment_170" class="wp-caption alignright" style="width: 136px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/green-canyon-trip-059.jpg"><img class="size-medium wp-image-170" title="Green Canyon Trip 059" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/green-canyon-trip-059.jpg?w=126&#038;h=168" alt="" width="126" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Wajib lompat dari Batu Payung ini!!</p></div>
<p>Kemudian, setelah menaiki pemandian putri cobalah untuk melompat dari Batu Payung. Batu Payung memiliki ketinggian sekitar 5 meter sehingga melompat ke sungai dari batu tersebut merupakan pengalaman seru bagi saya dan ingin melompat dan melompat lagi.</p>
<p>Secara total, kami rafting menyusuri sungai sepanjang 6 km dan jika anda ingin melakukan body rafting sebaiknya anda mempersiapkan sendal gunung, perbekalan yang cukup terutama air minum dan kamera digital anti air/underwater. Kemudian, untuk penduduk lokal penyedia jasa body rafting anda dapat menghubungi Bapak Azwi di 085223173821. Penduduk lokal sangat ramah dan sebagai pemandu mereka sangat berpengalaman dengan medan di sungai tersebut sehingga yakinlah anda berada di tangan yang aman.</p>
<p>Saya dapat katakan jika anda ke Pangandaran tapi belum melakukan body rafting di Green Canyon maka dapat dikatakan anda belum merasakan keindahan Pangandaran yang sesungguhnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Sungai Citumang</strong></span></p>
<p>Sungai Citumang merupakan obyek wisata kedua yang menarik dari Pangandaran setelah Green Canyon. Citumang terletak tidak begitu jauh dari Pantai Pangandaran, jika menggunakan mobil pribadi maka jarak tempuh kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah sepanjang jalan kecil menuju Citumang itu rusak berat dan disarankan bagi anda untuk menggunakan mobil tinggi atau jika tidak anda bisa memarkir mobil di tikungan menuju Citumang dan melanjutkan perjalanan dengan menyewa ojek.</p>
<p>Sesampai di parkiran motor atau mobil, kita harus berjalan sejauh 1km atau kurang lebih 15 menit untuk mencapainya dan ketika anda telah sampai di Sungai Citumang maka anda akan men<a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-139.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-184" title="GC_Mei 2010 139" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-139.jpg?w=237&#038;h=158" alt="" width="237" height="158" /></a>emukan sebuah sungai dengan air yang jernih. Menurut pemandu kami, yang istimewa dari sungai ini adalah bahkan pada musim kemarau pun debit air tetap tinggi dikarenakan ia langsung dari mata air gunung.</p>
<p>Di ujung sungai citumang terdapat sebuah goa besar. Anda dapat berenang terus ke dalam goa, dan menurut cerita pemandu kami dahulu pernah ada orang bule berenang menyusuri goa dengan peralatan diving lengkap (termasuk tabung oksigen) karena semakin anda berenang ke dalam goa maka semakin sulit untuk bernapas.</p>
<p>Saya sendiri lebih memilih untuk bermain di pinggiran goa saja, setelah itu berenang mengikuti arus sepajang sungai dan melompat berkali-kali dari puncak air terjunnya. Jika anda berenang di bawah air terjun citumang, cobalah untuk menuju goa kecil yang terletak dibelakang air terjun tersebut. Goa itu begitu kecil jadi ketika anda berenang</p>
<div id="attachment_183" class="wp-caption alignleft" style="width: 162px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-172.jpg"><img class="size-medium wp-image-183" title="GC_Mei 2010 172" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-172.jpg?w=152&#038;h=114" alt="" width="152" height="114" /></a><p class="wp-caption-text">Lompaattt!</p></div>
<p>didalamnya berhati-hatilah agar kepala anda tidak membentur batu-batu staglanit disana. Untuk menuju kesana, jangan bergerak lurus menembus air terjun karena derasnya arus akan membuat anda berjuang setengah mati, untuk mempermudah berjalanlah dari pinggir dengan berpegangan kepada batu untuk membawa anda melawan arus.</p>
<p>Citumang bagi saya adalah tempat kedua terbaik di Pangandaran setelah Green Canyon, jadi jika anda ke Pangandaran sempatkanlah diri untuk berenang di sungai ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=160&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/05/23/catatan-perjalanan-green-canyon-dan-sungai-citumang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GC_Mei 2010 102</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-061.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GC_Mei 2010 061</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-1221.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GC_Mei 2010 122</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/green-canyon-trip-059.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Green Canyon Trip 059</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-139.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GC_Mei 2010 139</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2010/05/gc_mei-2010-172.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GC_Mei 2010 172</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prahara Revolusi</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/03/08/prahara-revolusi/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/03/08/prahara-revolusi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Menarik mengamati tuntutan dan pekikan revolusi yang muncul di setiap demonstrasi mahasiswa maupun masyarakat sipil lainnya. Revolusi seakan menjadi ‘pekikan wajib’ dalam setiap kegiatan demonstrasi, seakan-akan anda belum menjadi “pendemonstran yang baik’ jika belum memekikkan revolusi. Konteks revolusi disini adalah revolusi di bidang politik dimana tuntutan utamanya adalah pergantian rezim pemerintahan secara cepat yang diyakini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=156&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik mengamati tuntutan dan pekikan revolusi yang muncul di setiap demonstrasi mahasiswa maupun masyarakat sipil lainnya. Revolusi seakan menjadi ‘pekikan wajib’ dalam setiap kegiatan demonstrasi, seakan-akan anda belum menjadi “pendemonstran yang baik’ jika belum memekikkan revolusi.</p>
<p>Konteks revolusi disini adalah revolusi di bidang politik dimana tuntutan utamanya adalah pergantian rezim pemerintahan secara cepat yang diyakini dapat membawa kebaikan bagi masyarakat karena diharapkan pula dengan bergantinya rezim maka akan berubah pula tata kelola pemerintahan sehingga menjadi lebih baik. Namun, apakah Indonesia betul-betul membutuhkan revolusi demi kemajuan bangsa?</p>
<p>Saya menyakini, Indonesia tidak membutuhkan revolusi melainkan Indonesia membutuhkan perubahan gradual, terencana dan yang terpenting berkelanjutan. Sejarah telah membuktikan bahwa revolusi justru akan menghasilkan rezim otoritarian yang malah banyak membawa bencana bagi suatu bangsa, coba lihat Revolusi Prancis melahirkan Kekaisaran Napoleon Bonaparte, Revolusi Bolshevik justru melahirkan Negara Tirai Besi Uni Soviet (dan melahirkan pemimpin sekeji Stalin), revolusi di Chili justru berkontribusi dalam memunculkan rezim Augusto Pinochet, revolusi di Uganda menghasilkan rezim otoriter Idi Amin, Revolusi Kuba menghasilkan rezim otoriter Fidel Castro, revolusi penolakan Perjanjian Versailles di Jerman menghasilkan rezim Nazi Adolf Hitler, revolusi  di Zimbabwe melahirkan Robert Mugabe dan bahkan Presiden Sukarno jatuh akibat pendekatan revolusi yang diandalkannya dalam mengelola Negara Indonesia paska kemerdekaan.</p>
<p>Kemudian, yang unik adalah para tokoh otoriter dunia justru mengecap diri mereka sebagai revolusioner sejati atau menempelkan embel-embel revolusi dalam slogan partai maupun di setiap pidato yang mereka kemukakan. Dengan demikian, kita harus berhati-hati dengan penggunaan istilah revolusi, sejarah telah membuktikan revolusi justru akan menghasilkan kekerasan dan kekerasan akan menghasilkan kekacauan dan ketidakstabilan, dan pada akhirnya kekacauan dan ketidakstabilan justru akan melahirkan rezim otoriter yang berkeyakinan bahwa diperlukan suatu kepemimpinan kuat untuk membawa negara keluar dari ketidakstabilan.</p>
<p>Inilah prahara revolusi, saya menyakini orang-orang pencetus dan pembawa ide revolusi memiliki niatan baik dan luhur, namun terkadang praktik di lapangan berkata lain, sejarah telah membuktikannya, alih alih membawa kebaikan, revolusi malah menghasilkan suatu rezim represif yang menistakan hak-hak asasi warganya.</p>
<p>Dengan demikian, Indonesia tidak membutuhkan revolusi melainkan perubahan gradual, bertumbuh secara bertahap namun pasti, hal ini bisa dilakukan dengan menghasilkan sustainability dari suatu perencanaan besar (grand strategy) dan bukan sustainability dari suatu rezim. Intinya, janganlah setiap rezim berganti kebijakanpun berganti drastis.</p>
<p>Saya berharap wacana revolusi hanyalah sebatas pekikan yang diteriakkan oleh mereka yang berdemonstrasi di jalanan, semoga revolusi tidak lebih jauh diambil sebagai solusi atas permasalahan (apapun) yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=156&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2010/03/08/prahara-revolusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balibo dan Refleksinya Bagi Indonesia</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/12/29/146/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/12/29/146/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 07:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai pencinta film sejarah, saya sangat menyesalkan larangan pemerintah terhadap pemutaran film Balibo di JiFest beberapa waktu lalu. Menurut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, film tersebut dilarang untuk menghindari persepsi negatif mengenai Indonesia. Yang mengecewakan bagi saya adalah bahwa film ini dilarang di tengah kondisi Indonesia sekarang yang demokratis, tentu pelarangan tersebut mencederai citra demokrasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=146&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai pencinta film sejarah, saya sangat menyesalkan larangan pemerintah terhadap pemutaran film Balibo di JiFest beberapa waktu lalu. Menurut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, film tersebut dilarang untuk menghindari persepsi negatif mengenai Indonesia.</p>
<p>Yang mengecewakan bagi saya adalah bahwa film ini dilarang di tengah kondisi Indonesia sekarang yang demokratis, tentu pelarangan tersebut mencederai citra demokrasi di Indonesia, alasan yang diungkapkan Marty Natalegawa tidaklah tepat, karena pelarangan justru akan membuat persepsi negatif mengenai Indonesia berpotensi meluas.</p>
<p>Untung saja, di beberapa pengecer DVD bajakan, film tersebut dijual sehingga saya memiliki kesempatan untuk menonton Balibo, dan ketika selesai menonton film tersebut harus saya akui bahwa film Balibo bisa menjadi edukasi sejarah yang baik bagi penontonnya dan film tersebut bisa menjadi versi tandingan dari versi pemerintah mengenai apa yang terjadi di Timor Timur.</p>
<p>Jika menurut pemerintah kelima jurnalis tersebut meninggal karena silang tembak antara ABRI dan Fretilin, sementara menurut pihak Fretilin kelima jurnalis tersebut meninggal karena dibunuh oleh ABRI. Akan tetapi, bagi saya bagaimana mereka meninggal bukanlah satu-satunya substansi penting, apalagi itu masih bisa diperdebatkan, namun substansi terpenting adalah bahwa Indonesia pernah &#8216;menjajah&#8217; Timor Timur dan 183 ribu jiwa meninggal ketika kependudukan Indonesia, fakta itu penting kita ingat dan sesali agar tidak terulang kembali di masa depan.</p>
<p>Bagi saya, Timor Timur merupakan kecelakaan sejarah bangsa Indonesia. Indonesia terbentuk karena perasaaan senasib dan sepenanggungan dijajah oleh Belanda, kita merdeka tahun 1945 dan Timor Timur merdeka dari tangan Portugis sekitar tahun 1975. Kependudukan Indonesia di Timor Timur merupakan pengkhianatan bagi prinsip politik luar negeri kita yang bebas dan aktif dan pada akhirnya menjadi beban, baik itu beban moril, ekonomi dan politik bagi bangsa Indonesia.</p>
<p>Pertanyaan terpenting yang hingga kini belum dijawab dan bahkan berulang kali dipertanyakan di film tersebut dan mungkin di sebagian besar masyarakat Timor Timur adalah mengapa Indonesia menduduki Timor Timur?</p>
<p>Bagi saya ada 2 hal utama yang menjadi motivasi bagi Indonesia untuk menduduki Timor Timur ketika itu.</p>
<p>Pertama, Indonesia sengaja menceburkan diri  ke dalam permainan Teori Domino AS dalam melawan komunisme. Dalam teori domino, para praktisi politik di AS percaya bahwa jika satu saja negara di wilayah Asia Tenggara jatuh ke tangan komunis maka secara beruntun semua akan jatuh ke tangan pemerintah komunis. Itulah alasan mengapa AS memerangi Vietnam, dan ketika itu Fretilin dianggap oleh Barat sebagai komunis sehingga jika mengacu kepada permainan domino, maka ia harus dicegah dan dianeksasi agar tidak jatuh ke tangan Fretilin yang komunis yang nantinya dapat mengganggu rezim kapitalis di Asia Tenggara. Rezim Soeharto di Indonesia saat itu, memang terkenal sebagai &#8216;sahabat AS&#8217; dalam menangkal komunisme, oleh sebab itu Indonesia didukung kuat secara ekonomi dan militer oleh AS untuk menduduki Timor Timur.</p>
<p>Namun, waktu telah membuktikan bahwa Teori Domino AS ini salah besar!!. Terbukti bahwa ketika Rezim Komunis Ho Chi Minh berkuasa di Vietnam, apakah kemudian negara-negara Asia Tenggara lain mengalami efek domino sehingga menjadi negara komunis?, satu-satunya negara komunis di Asia Tenggara yang muncul setelah kemunculan Vietnam adalah Kamboja dengan Rezim Komunis Pol Pot. Akan tetapi, antara Vietnam dan Kamboja pun mereka bukan &#8216;komunis sehati&#8217;, karena antara Vietnam dan Kamboja juga saling berkonflik akibat masalah kebijakan domestik Kamboja, perbatasan hingga pengungsi.</p>
<p>Kedua, kandungan gas dan minyak bumi di Timor Timur dapat menjadi sumber daya strategis bagi pembangunan yang dilakukan oleh Rezim Soeharto. Tahun 1975, merupakan masa dimana Indonesia sedang mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi yang merupakan resultante dari kebijakan Orde Lama, ketika itu Indonesia membutuhkan banyak sumber daya seperti minyak untuk memicu pertumbuhan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama pendudukan Indonesia, hasil kekayaan perut bumi Timor Timur banyak lari dan dinikmati oleh Jakarta dan daerah sekitar pulau Jawa yang menjadikan Indonesia seperti melakukan &#8216;pencurian&#8217; sistemik atas kekayaan Timor Timur.</p>
<p>Saya menyakini, bahwa jika kita berprinsip kepada dasar politik luar negeri bebas dan aktif, kita tidak seharusnya menjajah Timor Timur. Kasus ini berbeda dengan Aceh dan Papua karena dari awal mereka adalah bagian dari NKRI, beda halnya dengan Timor Timur dimana kita lebih terkesan datang sebagai &#8216;penjajah&#8217; kemerdekaan mereka. Kita seharusnya tidak pernah menjajakkan kaki di negara tersebut.</p>
<p>Sungguh ironis melihat betapa rakyat dan pemerintah Indonesia mendesak pemerintah Belanda untuk mengeluarkan permintaan maaf secara resmi karena dulu telah menjajah Indonesia sementara Indonesia tidak pernah meminta maaf kepada masyarakat Timor Timur karena tindakannya di masa lalu, bagi saya sebagai bangsa besar dan beragama kita harusnya jangan bersikap hipokrit.</p>
<p>Atas argumentasi itu, maka saya memuji keputusan politik yang diambil Habibie ketika memutuskan untuk referendum. Meskipun disinyalir ada kecurangan namun keberanian Habibie untuk memberikan hak memilih bagi masyarakat Timor Timur untuk masa depannya merupakan tindakan berani dan benar. Lagipula, Timor Timur telah memberatkan Indonesia baik secara moril dan ekonomi. Apalagi kondisi saat itu, AS dan Australia telah berubah dari kawan menjadi lawan karena komunisme telah runtuh dan dalam kasus ini Indonesia tidak lagi dianggap menarik bagi mereka dibandingkan apa yang terdapat di perut bumi Timor Timur.</p>
<p>Itulah poin terpenting dari film balibo ini, bukan mengenai menjelek-jelekan Indonesia karena bagaimana cara kelima jurnalis tersebut meninggal, melainkan bahwa film ini mengingatkan atas kesalahan terdahulu dari bangsa kita yang telah menjajah Timor Timur dan penting bagi kita untuk meminta maaf karena begitu banyak orang kehilangan keluarga dan kerabat, baik dari pihak Timor dan Indonesia, akibat kesalahan kebijakan tersebut.</p>
<p>Disamping itu kita harus ingat, bangsa yang besar bukanlah sekedar bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah melainkan juga adalah bangsa yang menghargai sejarah. Apakah pelarangan film ini telah mencerminkan sikap kita sebagai bangsa yang menghargai sejarah?  pembaca dapat menjawabnya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=146&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/12/29/146/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisata &#8216;Unik&#8217; Kota Batu</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/11/30/wisata-unik-kota-batu/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/11/30/wisata-unik-kota-batu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 04:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Dalam liburan long weekend Idul Adha 24 Dzulhijjah kemarin, saya memiliki kesempatan untuk kembali mengunjungi Malang which is my favourite ever city. Terakhir kali saya mengunjungi Malang adalah pada bulan Desember tahun lalu dan setelah itu saya sangat ingin kembali mengunjungi Malang. Jika dalam kunjungan ke Malang setahun yang lalu saya mengunjungi Bromo dan Segara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=132&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam liburan long weekend Idul Adha 24 Dzulhijjah kemarin, saya memiliki kesempatan untuk kembali mengunjungi Malang which is my favourite ever city. Terakhir kali saya mengunjungi Malang adalah pada bulan Desember tahun lalu dan setelah itu saya sangat ingin kembali mengunjungi Malang.</p>
<p>Jika dalam kunjungan ke Malang setahun yang lalu saya mengunjungi Bromo dan Segara Anakan di Pulau Sempu bersama kawan-kawan Genggong, dalam kunjungan ke Malang kali ini saya mengunjungi Batu bersama keluarga, yaitu papa, mama, istri dan adik saya.</p>
<p>Batu merupakan kota yang sejuk, dalam kunjungan tahun lalu saya bersama kawan-kawan hanya sempat singgah sebentar di kota Batu namun kali ini saya bisa menghabiskan 2 malam 3 hari di kota ini.</p>
<p>Batu agak mirip dengan puncak namun tentu belum seruwet dan sepolutif Puncak. Batu jauh lebih sejuk, dingin dan kaya akan obyek wisata dibandingkan Puncak. Dikarenakan ia merupakan daerah wisata maka Batu terus berkembang dalam rangka meningkatkan kenyamanan turis. Musim hujan di bulan November-Desember semakin membuat sejuk dan dingin kota Batu. Jika anda sedang dalam program diet maka bersiaplah untuk menghadapi &#8216;godaan kuliner&#8217; yang bertubi-tubi karena kombinasi serangan berupa udara dingin dan banyak tempat kuliner akan membuat pertahanan diet anda dijamin jebol.</p>
<p>Perjalanan ke Batu dimulai dari Bandara Soekarno Hatta di Jakarta menuju Bandara Djuanda di Surabaya. Sesampai di Surabaya, seorang sahabat bersedia meminjamkan mobil yang menjadi moda transportasi kami menuju Batu dari Surabaya.</p>
<div id="attachment_138" class="wp-caption alignleft" style="width: 191px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0021.jpg"><img class="size-medium wp-image-138" title="Batu 002" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0021.jpg?w=181&#038;h=135" alt="" width="181" height="135" /></a><p class="wp-caption-text">Lumpur Lapindo</p></div>
<p>Dari Bandara Djuanda, kami berkendara melewati tol dalam kota menuju pintu keluar tol Sidoarjo. Di Sidoarjo kami menyempatkan diri untuk mampir melihat lumpur lapindo di Porong. Sesampainya di puncak tanggul, sejauh mata memandang kami hanya bisa melihat lautan lumpur yang begitu luas disertai bau busuk menyengat. Di tanggul yang terbuat dari tanah keras, mulai terlihat retakan-retakan yang diakibatkan dari volume lumpur yang semakin meluas. Saya sedikit merinding ketika membayangkan bahwa dahulu Porong merupakan kota yang hidup yang menjadi sentra industri UKM di Jawa Timur. Namun, setelah bencana lumpur lapindo kini Porong lebih terlihat seperti kota &#8216;setengah&#8217; mati (half dead) dimana mati segan hidup pun tak mau. Ketika mata melihat lautan lumpur, saya kembali mengingat dialog yang diucapkan Will Smith dalam film I am Legend &#8220;God didn&#8217;t do this, but human did&#8221;.</p>
<p>Total waktu perjalanan dari Bandara Djuanda ke Batu hanya memakan waktu sekitar 2 jam, itu jika keadaan jalan di porong tidak macet. Total kilometer adalah sekitar 90 kilometer, sama seperti perjalanan dari Jakarta ke Bogor.</p>
<p>Sesampai di Batu pada hari pertama, kami hanya turun mengunjungi kota Malang untuk mengunjungi Hotel Tugu dan mengunjungi sahabat saya Tumin. Papa dan Mama ingin sekali melihat Hotel Tugu yang dibilang banyak orang hotel yang mewah sekaligus berkesan angker. Sementara mereka mengelilingi hotel tersebut, saya bersama adik dan istri lebih memilih untuk istirahat sejenak di toko kue hotel tersebut. S</p>
<p>Bagi saya dan istri kunjungan ke toko kue Hotel Tugu sedikit nostalgik. Dalam kunjungan tahun lalu bersama sahabat Genggong (ketika kami belum menikah), kami menginap di hotel Kartika Kusuma yang berada persis di seberang toko kue tersebut. Saya sangat merindukan es krim &#8216;home made&#8217; dan Mousse Cake yang dijual di toko kue tersebut dan setelah setahun akhirnya saya bisa kembali merasakan es krim dan cake tersebut.</p>
<p>Hari kedua di Batu merupakan hari dimana kami menghabiskan waktu seharian penuh dengan jalan-jalan.</p>
<p>Pertama, kami pergi wisata hutan ke Cangar dengan tujuan ingin mandi air panas. Perjalanan ke Cangar agak jauh dan sesampai di tempat permandian air panas ternyata penuh sesak dengan pengunjung. Kamipun tidak menghabiskan waktu berlama-lama karena Pemandian Air Panas Cangar belum senyaman seperti pemandian air panas di Lembang atau Garut, dengan demikian kami segera kembali ke Batu untuk melakukan wisata selanjutnya, yaitu agrowisata.</p>
<p>Agrowisata di Kota Batu diselenggarakan oleh Hotel Kusuma. Saya kagum dengan positioning unik yang diambil oleh hotel ini. Hotel Kusuma merupakan tempat penginapan yang menawarkan pemandangan perkebunan disekitar hotel tersebut.</p>
<div id="attachment_139" class="wp-caption alignright" style="width: 126px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0601.jpg"><img class="size-medium wp-image-139" title="Batu 060" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0601.jpg?w=116&#038;h=155" alt="" width="116" height="155" /></a><p class="wp-caption-text">Menikmati Buah Hasil Petikan Sendiri</p></div>
<p>Perkebunan itu langsung dikelola oleh Manajemen Hotel. Disana terdapat beragam jenis pohon, buah dan bunga. Untuk para tamu yang menginap di hotel maka mereka tidak perlu membayar jika ingin melakukan wisata agro, sementara untuk tamu dari luar hotel diharuskan untuk membayar sesuai dengan paket-paket menarik yang ditawarkan. Positioning seperti ini bagi saya menarik karena unik dan inovatif. Hotel Kusuma dengan baik telah menciptakan model bisnis dengan memadukan leisure dan agrobisnis secara baik untuk memberikan nilai tambah bagi pengunjung.</p>
<p>Disana, kami mengunjungi perkebunan Jambu, Apel dan Buah Naga (dragon fruit). Untuk setiap satu tiket, pengunjung boleh memetik dua buah dari setiap perkebunan yang dikunjungi, bagi ibu dan istri saya ini seperti pergi ke pasar buah namun terasa unik karena kita bisa memilih langsung buah yang ingin kita petik dari pohonnya. Untuk setiap buah yang telah dipetik kami dilarang untuk langsung memakannya karena alasan kebersihan, setiap pengunjung diwajibkan untuk mencuci terlebih dahulu buah-buahan itu dimana pada akhir kunjungan nanti para pengunjung dapat mengunjungi Kedai Apel. Di Kedai Apel, semua buah yang telah dipetik akan dicuci dan kami bisa bebas memilih apakah buah tersebut ingin langsung dimakan atau dibuat jus. Saya memilih untuk dibuat jus dan mungkin karena buahnya dipetik langsung dari perkebunan maka jus itu terasa segar sekali.</p>
<p>Setelah melakukan Agrowisata, kami melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi tempat hiburan malam BNS (Batu Night Spectaculer). Seperti halnya Agrowisata, objek wisata ini juga menawarkan positioning yang sangat unik. BNS ibaratkan pasar malam di Jakarta namun ia jauh lebih modern, ia juga ibarat seperti dufan di malam hari. Begitu banyak wahana yang ditawarkan dari Sepeda Udara, Go Kart, Teater 4d dan lain-lain. Tiket masuk ke BNS sangat murah, yaitu Rp. 10ribu namun harga itu belum termasuk untuk setiap wahana yang ada disana. Kisaran harga untuk menikmati wahana-wahana yang ada disana sangat bervariasi, dari Rp. 10.000 hingga Rp. 60.000.</p>
<div id="attachment_140" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-137.jpg"><img class="size-medium wp-image-140" title="Batu 137" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-137.jpg?w=150&#038;h=198" alt="" width="150" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Lampion Garden</p></div>
<p>Jika anda ke BNS, maka anda wajib mengunjungi Lampion Garden. Wahana ini unik dan belum ada di Jakarta meski di Dufan sekalipun. Konsepnya sederhana namun powerful. Anda bisa melihat pemandangan lampion berwarna-warni dengan wujud obyek terkenal dunia, seperti tokoh kartun Mickey Mouse dan Donald Duck, Menara Eifel dan beragam jenis binatang dan bermacam obyek menarik lainnya. Pemandangan lampion di malam hari terlihat cantik dan romantis dan membuat menjadi obyek yang menarik untuk difoto. Saya dan istri menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam di wahana Lampion Garden dan kebanyakan waktu kami habiskan untuk berfoto.</p>
<p>Keesokan harinya, kami harus kembali ke Surabaya untuk kemudian kembali ke Jakarta. Kunjungan ke Malang kali ini memang singkat dan itu sedikit membuat saya tidak puas karena masih banyak obyek wisata dan termasuk keluarga yang ingin saya kunjungi. Akan tetapi setidaknya, kunjungan ke Malang kemarin lumayan mengobati sedikit rindu saya terhadap Kota Malang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>untuk melihat album foto Batu, silahkan link ke:</em></p>
<p><em>http://www.facebook.com/home.php#/album.php?aid=125049&amp;id=605892838</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=132&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/11/30/wisata-unik-kota-batu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Batu 002</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-0601.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Batu 060</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/11/batu-137.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Batu 137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumenep: Keindahan di Timur Pulau Madura</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/20/sumenep-keindahan-di-timur-pulau-madura/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/20/sumenep-keindahan-di-timur-pulau-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 02:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian besar orang, Madura dikenal sebagai pulau yang tandus, kering dan panas bahkan sebagian mungkin merasa takut untuk pergi ke Madura karena masyarakatnya dikenal bertemperamen keras. Namun, cobalah anda pergi ke Madura, tepatnya ke Kabupaten Sumenep di ujung timur Pulau Madura, maka anda akan mengalami seperti apa yang baru saja saya alami, tipologi tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=111&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian besar orang, Madura dikenal sebagai pulau yang tandus, kering dan panas bahkan sebagian mungkin merasa takut untuk pergi ke Madura karena masyarakatnya dikenal bertemperamen keras. Namun, cobalah anda pergi ke Madura, tepatnya ke Kabupaten Sumenep di ujung timur Pulau Madura, maka anda akan mengalami seperti apa yang baru saja saya alami, tipologi tersebut akan terkoreksi dengan sendirinya.</p>
<p>Sumenep merupakan salah satu dari 4 kabupaten yang terdapat di Madura, yaitu Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan dan Kab. Sumenep itu sendiri. Sumenep terletak di ujung timur Pulau Madura dan dikenal sebagai ‘Solo’nya Madura dikarenakan logat penduduk Sumenep yang halus jika dibandingkan dengan logat penduduk di 3 kabupaten lainnya. Sumenep memiliki banyak obyek wisata kunjungan, terutama wisata laut. Ia memiliki banyak gugusan pulau kecil yang masih asri dan perawan. Sumenep juga telah menjadi titik penghubung dari Pulau Madura menuju Pulau Kangean yang juga banyak memiliki pulau-pulau kecil indah, seperti Sabeken.</p>
<p>Perjalanan saya ke Sumenep sebetulnya terjadi secara kebetulan dan mendadak. Awal niatan saya untuk mengunjungi Madura muncul karena ada kesempatan. Pada hari Minggu tanggal 18 Oktober 2009 adalah hari pernikahan sepupu saya di Surabaya, sehingga saya berpikir karena saya bisa cuti dari kantor pada hari Jumat tanggal 16 Oktober 2009, maka ini adalah kesempatan baik untuk mampir ke Madura sebelum menghadiri acara pernikahan sepupu. Niat itu makin menguat mengingat telah didirikannya Jembatan Suramadu yang membuat jarak tempuh dari Surabaya ke Madura menjadi kian singkat.</p>
<p>Kemudian, karena saya sendiri masih belum ‘kenal’ dengan Madura maka 2 hari menjelang keberangkatan saya mulai mencari berbagai informasi mengenai Madura di internet. Setelah menelusuri beberapa situs resmi pemerintah dan beberapa blog orang yang pernah kesana akhirnya saya putuskan untuk pergi ke satu pulau, yaitu Pulau Gililabak di Kabupaten Sumenep karena disana dikenal memiliki wisata taman laut yang indah.</p>
<p>Perjalanan kali ini saya lakukan bersama istri (Maria), adik (Pringgo) dan sepupu (Andar). Total waktu perjalanan dari Bandara Djuanda ke Kab. Sumenep adalah 3,5 jam.</p>
<p>Dalam perjalanan, kami melewati Jembatan Suramadu yang megah dan berdiri kokoh layaknya Jembatan Golden Gate di San Fransisco. Jembatan Suramadu memiliki nilai ekonomis tinggi karena menghubungkan Madura dengan daratan Jawa Timur, tepatnya Surabaya.</p>
<div id="attachment_112" class="wp-caption alignleft" style="width: 231px"><img class="size-medium wp-image-112" title="Gililabak 02" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-02.jpg?w=221&#038;h=164" alt="Jembatan Suramadu" width="221" height="164" /><p class="wp-caption-text">Jembatan Suramadu</p></div>
<p>Jika dulu penyebrangan dari Madura ke Surabay harus dilakukan dengan feri selama hampir 2 jam (termasuk prakiraan waktu antri di pelabuhan) maka sekarang hanya dalam 5 menit anda sudah bisa mendaratkan kendaraan anda di Madura berkat Jembatan Suramadu. Menurut saya, Jembatan Suramadu merupakan salah satu karya arsitektur terbaik anak bangsa, bukan karena bentuknya melainkan karena manfaatnya yang saya percaya akan membawa kebaikan bagi masyarakat. Dari beberapa cerita masyarakat sekitar, semenjak didirikannya Jembatan Suramadu, kini banyak masyarakat, baik dari Surabaya maupun luar Surabaya, semakin sering mengunjungi Madura. Hanya saja dikarenakan informasi yang masih sedikit pada umumnya masyarakat yang mengunjungi Madura hanya berkutat di sekitar Jembatan Suramadu, termasuk Kab. Bangkalan. Minimnya informasi mengenai Madura tersebut merupakan tantangan dan permasalahan yang harus dijawab dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat sekitar demi memajukan Madura. Pun, saya menyakini, dengan didirikannya Jembatan Suramadu, Madura kini memiliki kesempatan emas untuk meningkatkan perekonomiannya secara signifikan, sekarang tinggal bagaimana pengambil kebijakan dan masyarakat setempat dapat memanfaatkan momentum tersebut secara strategis dan taktis.</p>
<p>Dikarenakan secara geografis Kab. Sumenep terletak di ujung timur Pulau Madura, maka dalam perjalanan kami melewati tiga kabupaten sekaligus di Madura secara berurutan, mulai dari Kab. Bangkalan, Kab. Sampang dan Kab. Pamengkasan. Selama perjalanan dari Kab. Bangkalan ke Kab. Pamengkasan, tanah sekitar terlihat tandus dan kering. Hal ini dikarenakan karena musim hujan merupakan ‘barang langka’ di Pulau Madura sehingga tanah menjadi mudah tandus. Musim hujan umumnya baru dimulai pada awal Desember hingga pertengahan Februari. Inipun, kami rasakan ketika kami harus berjalan di pinggir jalan Madura pada siang hari, cuaca terik dan panas sungguh membuat kami gampang mengalami dehidrasi. Oleh sebab itu, jika anda ingin melakukan perjalanan ke Madura maka alangkah lebih baik anda menyiapkan stok air mineral guna mengantisipasi dehidrasi yang timbul akibat cuacanya yang panas.</p>
<p>Pemandangan berbeda mulai terlihat ketika kami memasuki Kab. Sumenep. Disana tanah terlihat subur karena banyak terdapat tanaman hijau yang ditanam oleh penduduk sekitar. Namun, tetap satu hal yang tidak berubah adalah cuacanya yang panas dan terik.</p>
<p>Kemudian, sepanjang jalan ke Kab. Sumenep kami menyisir pantai yang gradasi 3 warna lautnya (putih, hijau, biru) membuatnya menjadi pemandangan yang begitu sejuk untuk dilihat. Sesampai di kota, kami langsung memutuskan untuk pergi ke Pelabuhan Kalianget untuk melihat apakah kami memiliki kesempatan untuk menjelajah ke Pulau Gililabak sekarang. Pelabuhan Kalianget terletak sekitar 12 km dari kota di Sumenep dan perjalanan kesana hanya memakan waktu sekitar 15 menit.</p>
<p>Di Pelabuhan Kalianget, kami bertemu penduduk bernama Budi yang banyak membantu kami dalam mendapatkan kapal nelayan setempat yang bisa digunakan untuk menyebrang ke Gililabak. Akan tetapi, dikarenakan kami tiba menjelang senja, maka Budi menyarankan kami untuk melakukan penyebrangan pada esok Subuh agar kami bisa melakukan kegiatan snorkeling yang menjadi tujuan utama kami.</p>
<p>Kamipun mengikuti saran Budi sehingga kami memutuskan untuk kembali ke kota dan menginap di Hotel Utami Semekar. Kami tiba di hotel sekitar pukul 18.00 WIB, dan setelah mandi dan bersih-bersih kami langsung makan sate di pinggir jalan depan hotel. Selama makan di pinggir jalan, kami tidak sekalipun dihampiri oleh pengemis dan pengamen selayaknya di Jakarta sehingga membuat makan malam kami menjadi lebih nikmat jika dibandingkan dengan melakukan hal yang sama di Jakarta. Sesudah perut kenyang, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokannya,kami telah berjanji untuk bertemu kembali dengan Budi di Pelabuhan Kalianget pada pukul 4 pagi.</p>
<div id="attachment_114" class="wp-caption alignleft" style="width: 234px"><img class="size-medium wp-image-114" title="Gililabak 016" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-016.jpg?w=224&#038;h=168" alt="Sunrise di Sumenep" width="224" height="168" /><p class="wp-caption-text">Sunrise di Sumenep</p></div>
<p>Kami bangun sekitar pukul 3.30 pagi dan dengan sewaan mobil penduduk sekitar kami langsung menuju kembali ke Pelabuhan Kalianget. Di Pelabuhan Kalianget, Budi telah mempersiapkan kapal nelayan yang khusus kami sewa untuk penyebrangan. Yang unik, sekitar pukul 05.00 pagi pemandangan di Sumenep tidak seperti di Jakarta jika dibandingkan pada waktu yang sama. Jika di Jakarta pada pukul 05.00 pagi matahari masih terbenam dan gelap masih menyongsong, tidak demikian halnya dengan Sumenep. Pada pukul yang sama, matahari telah terbit dan warga pesisir terlihat telah bersiap-siap untuk memulai aktifitas.</p>
<p>Penyebrangan dari Sumenep ke Gililabak memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya karena kami harus melewati ombak yang bergelombang akibat tiupan angin selatan. Bagi istri saya yang belum terbiasa berada di kapal yang terombang ambing ombak, tentu berada pada situasi demikian sangat mengocok dan memualkan perut. Namun, saya takjub ketika harus melihat sepupu saya Andar yang masih saja tertidur lelap dan ngorok di tengah perjalanan melewati ombak seperti itu.</p>
<div id="attachment_113" class="wp-caption alignright" style="width: 248px"><img class="size-medium wp-image-113" title="Gililabak 026" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-026.jpg?w=238&#038;h=178" alt="Musim Terbaik Untuk Memancing" width="238" height="178" /><p class="wp-caption-text">Musim Terbaik Untuk Memancing</p></div>
<p>Selama penyebrangan, saya memiliki kesempatan untuk melihat aktivitas penyaringan ikan oleh warga sekitar. Mereka mulai melaut pada pukul 02.00 pagi dan kembali ke daratan pada pukul 12.00 siang. Yang menarik, mereka masih melakukan penyaringan dengan menggunakan tangan secara kolektif dan bukan dengan mesin selayaknya yang banyak dilakukan oleh nelayan di Teluk Jakarta. Menurut Mas Muslim, salah seorang penduduk yang turut mengantarkan kami ke Gililabak, pada sekitar bulan September-November merupakan waktu terbaik untuk mencari ikan karena sedang terdapat banyak-banyaknya ikan. Dari hasil kerja keras nelayan inilah, kebutuhan pangan sebagian besar masyarakat Sumenep dapat terpenuhi. Disamping itu, hasil-hasil tangkapan nelayan ini telah secara rutin dikirimkan ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan Surabaya. Bahkan, sebagian tangkapan seperti ikan Kakap merah telah diekspor ke berbagai mancanegara. Ikan Kakap Merah merupakan komoditas yang mudah dikonsumsi di Sumenep, tidak seperti di Jakarta dimana kita harus mengeluarkan uang banyak untuk mengkonsumsinya. Menurut Mas Muslim, jika kita ingin mengkonsumsi ikan Kakap Merah yang perlu kita lakukan hanyalah memancing!!.</p>
<p>Akhirnya, setelah melakukan perjalanan selama</p>
<div id="attachment_115" class="wp-caption alignright" style="width: 223px"><img class="size-medium wp-image-115" title="UW10" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/uw10.jpg?w=213&#038;h=279" alt="Terumbu Karang di Gililabak" width="213" height="279" /><p class="wp-caption-text">Terumbu Karang di Gililabak</p></div>
<p>kurang lebih 2 jam, kami tiba juga di Pulau Gililabak. Aktivitas pertama yang kami lakukan sesampainya disana adalah snorkeling. Aktivitas snorkeling menjadi kian istimewa karena dua hal, pertama cuaca cerah sekali, kedua taman bawah lautnya memiliki terumbu karang yang berwarna warni dengan bermacam jenis ikan. Lucunya, diantara 5 penduduk yang turut mengantarkan kami, hanya 2 orang yang pernah mengunjungi Gililabak sementara 3 orang lainnya, termasuk Budi, mengaku belum pernah sama sekali dan bahkan tahu mengenai Gililabak!!!. Yang menarik dari taman bawah laut di Gililabak adalah terumbu karang yang beraneka warna. Di tengah terumbu karang itu, saya menemukan ikan badut (clown fish) atau lebih dikenal sebagai nemo, salah satu tokoh rekayasa Disney dalam film Finding Nemo. Sayapun memulai untuk mengambil foto-foto underwater dan kami semua terlihat begitu enjoy menikmati kegiatan snorkeling kami. Kemudian, kami mulai berenang menuju daratan dan ketika mendekat ke daratan, pasir di bawah air laut begitu putih sehingga dengan bantuan sorotan sinar matahari membuat air laut tampak berwarna hijau jernih.</p>
<p>Di daratan, kami melakukan sesi foto dengan gaya-gaya yang biasa kami lakukan seperti lari, lompat dan koprol. Disamping itu, kami menikmati pemandangan laut lepas di depan kami dengan gradasi 4 warna sekaligus (putih, hijau, biru, ungu). Kemudian, kami juga menyempatkan diri untuk melihat keadaan sekitar dengan kaki telanjang yang memungkinkan untuk dilakukan karena tidak begitu banyak benda tajam bertebaran. Kami menemukan bahwa Pulau Gililabak hanya dihuni hanya oleh sekitar 10 keluarga secara turun temurun. Penduduk sekitar hampir tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia, mereka hanya berbicara dengan bahasa Madura. Dengan bantuan Budi untuk berkomunikasi dengan penduduk sekitar, kamipun bisa menikmati sarapan indomie yang lumayan mengganjal perut.</p>
<div id="attachment_117" class="wp-caption alignleft" style="width: 181px"><img class="size-medium wp-image-117" title="Gililabak 088" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-088.jpg?w=171&#038;h=227" alt="Andar dengan 'Pundi Mas'nya" width="171" height="227" /><p class="wp-caption-text">Andar dengan &#39;Pundi Mas&#39;nya</p></div>
<p>Yang menarik dari Pelabuhan Kalianget termasuk Gililabak, jika anda ingin membeli rokok maka sulit menemukan merk terkenal seperti Sampoerna, Marlboro, Bentoel dan merk terkenal lainnya. Yang ada adalah merk lokal seperti Pundimas. Hal ini menarik perhatian sepupu saya, Andar, ketika ia akhirnya memutuskan untuk membeli rokok Pundimas di Gililabak. Kemudian, dengan gayanya yang lucu ia mulai berpose dengan rokok Pundimas yang seolah-olah bergaya ala pemotretan majalah dan billboard lokal. Masyarakat Madura memang bangga dengan produk rokok lokal mereka, hal ini terlihat di hampir seluruh lapisa masyarakat yang mengkonsumsi rokok merk lokal dibandingkan dengan brand yang telah terkenal selama ini. Menurut Pak Abdullah, seorang penduduk yang mengantarkan kami kembali ke Surabaya, tembakau merupakan produk pertanian unggul yang bisa dihasilkan dari Madura. Namun, karena salah kelola oleh pemerintah setempat akhirnya membuat tembakau Madura menjadi kalah bersaing dengan tembakau dari daerah lain di Indonesia. Kini, harga tembakau Madura lebih dimonopoli oleh tengkulak yang justru banyak merugikan penduduk sekitar.</p>
<p>Setelah sarapan Indomie selesai, kami kembali ke pantai, dan snorkeling untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Pelabuhan Kalianget. Andar dan Maria terlihat lelah sehingga memutuskan untuk tetap berada di kapal, sementara saya dan adik saya Pringgo melakukan snorkeling untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Kalianget. Dalam sesi snorkeling terakhir ini, saya dan Pringgo saling bergantian untuk memotret diri kami yang sedang menyelam mendekati terumbu karang yang berwarna warni.</p>
<p>Sekitar pukul 10.30, akhirnya kami kembali ke Pelabuhan Kalianget dan tiba kembali di Kalianget pada pukul 12.00 WIB. Sesampainya di Kalianget, kami langsung kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk kembali ke Surabaya dalam rangka mengikuti prosesi pernikahan sepupu kami.</p>
<p>Kesan saya dalam perjalanan singkat ke Madura, adalah bahwa Madura tidak seburuk seperti anggapan orang pada umumnya. Penduduk sekitar ramah dan meskipun cuaca terasa terik dan panas, namun Madura banyak menawarkan wisata laut yang indah. Setelah Jembatan Suramadu, kini mereka hanya membutuhkan tiga hal untuk dapat ‘ngebut’ perekonomiannya, yaitu bandara, resor/cottage, serta kereta api. Dengan begitu, maka Madura siap untuk menjadi kota wisata yang unggul. Apalagi melihat posisi strategik antara Sumenep, Bali dan Surabaya yang berpotensi membentuk ‘segitiga emas’ pariwisata.</p>
<p>Berwisata ke Sumenep memang tidak cukup dilakukan selama 1 hari, masih terdapat banyak pulau kecil indah yang bisa dikunjungi dan masih asli dan bersih seperti Gililabak. Masih ada Sabeken, Pulau Buah, Pulau Raas dan pulau-pulau kecil lainnya. Itupun belum dihitung bahwa juga terdapat banyak obyek wisata darat yang bisa kita nikmati.</p>
<p>“Sumenep, suatu hari ku kan kembali lagi!! “</p>
<p>untuk melihat album foto Sumenep silahkan link ke: http://www.facebook.com/album.php?aid=115142&amp;id=605892838&amp;ref=mf</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=111&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/20/sumenep-keindahan-di-timur-pulau-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-02.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gililabak 02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-016.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gililabak 016</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-026.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gililabak 026</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/uw10.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">UW10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/gililabak-088.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Gililabak 088</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Segara Anakan: Yang Tak Terlupakan dari Kota Malang</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/12/segara-anakan-yang-tak-terlupakan-dari-kota-malang/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/12/segara-anakan-yang-tak-terlupakan-dari-kota-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 07:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda ke Segara Anakan, maka &#8216;paradise&#8217; yang ditunjukkan dalam film The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio almost nothing compare to it. Lokasi syuting film The Beach diambil di Ko Phi Phi Leh, Thailand, dikenal sebagai Maya Bay atau Phi Phi Island. Anda tidak perlu pergi ke Thailand untuk menikmati pemandangan seperti di Phi Phi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=84&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda ke Segara Anakan, maka &#8216;paradise&#8217; yang ditunjukkan dalam film The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio almost nothing compare to it. Lokasi syuting film The Beach diambil di Ko Phi Phi Leh, Thailand, dikenal sebagai Maya Bay atau Phi Phi Island. Anda tidak perlu pergi ke Thailand untuk menikmati pemandangan seperti di Phi Phi Island, karena di Indonesia, tepatnya di Malang menawarkan pemandangan yang tidak kalah jauh indahnya, yaitu Segara Anakan.</p>
<p>Segara Anakan merupakan sebuah laguna (lagoon) di Pulau Sempu, ia berbentuk seperti danau dikelilingi oleh hutan dan bukit dengan air yang terasa payau. Ia begitu terisolasi dan untuk bisa mencapainya, kita harus berjalan kaki (hiking) selama 1 jam lebih.</p>
<p>Perjalanan ke Segara Anakan saya lakukan bersama beberapa teman genggong, Cipto, Cici, Ipink, Norman, Bopa, calon istri Maria (saat itu, namun tidak sekarang karena sudah menjadi istri!), dan dua kerabat di Malang, Tumin dan Reno sebagai tour guide kami. Dari Malang, kami menempuh perjalanan sekitar 2 jam ke Sendang Biru. Sesampainya di Sendang Biru kami menyebrang ke Pulau Sempu dengan menyewa kapal nelayan sekitar sebesar Rp. 100 ribu, namun sebelum menyebrang kami mempersiapkan diri dengan makanan dan air mineral yang cukup sebagai bekal perjalanan kami ke Segara Anakan mengingat disana tidak ada sama sekali penduduk.</p>
<p>Setelah menyebrang ke Pulau Sempu, kami memulai perjalanan kaki dengan memasuki hutan rimba yang hanya memiliki jalan sepetak. Kondisi tanah sedikit berlumpur dengan kondisi jalan naik turun, lumpur diakibatkan karena beberapa hari sebelumnya Pulau Sempu didera hujan. Untuk sesaat, saya menjadi teringat kembali mengenai perjalanan saya ke Badui dalam sekitar 7 tahun lalu. Ketika itu, kami juga berjalan kaki hanya melewati jalan sepetak di dalam hutan belantara yang kesunyiannya membuat bulu kuduk agak merinding. Kami berjalan kaki dengan sangat hati-hati dan menjaga ritme dengan yang lain agar diantara kami tidak ada yang tertinggal. Apalagi dengan kondisi tanah berlumpur membuat kami seringkali menemui beberapa jalanan licin, kami harus hati-hati agar tidak terpeleset, dan harus siap jika kami harus menahan teman di depan kami yang terpeleset.</p>
<p>Sekali-kali kami beristirahat untuk mengatur nafas, dan melonjorkan kaki, dalam pikiran saya dan beberapa teman-teman, &#8220;kapan sampainya? kok lama sekali&#8221;, sejauh mata memandang kami hanya bisa melihat hutan belantara</p>
<div id="attachment_98" class="wp-caption alignleft" style="width: 236px"><img class="size-medium wp-image-98" title="SANY0088" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/sany0088.jpg?w=226&#038;h=168" alt="Hiking ke Segara Anakan" width="226" height="168" /><p class="wp-caption-text">Hiking ke Segara Anakan</p></div>
<p>dan tanah lumpur. Namun optimisme kami tetap terjaga, karena kami tahu bahwa kami menuju ke tempat yang sangat ingin kami tuju dalam perjalanan ke Malang kali ini, disamping itu canda tawa dan beberapa tingkah laku teman membuat kami juga bisa mengalihkan rasa lelah yang mendera kami. Apalagi kelakuan teman kami Tumin, ia suka latah dan setiap tergelincir kami selalu mendengar latahannya &#8220;tok kotok kotok kotok&#8221;, latahannya itu seringkali membuat kami tertawa.</p>
<p>Perjalanan di dalam hutan belantara seperti ini sebetulnya sedikit mengkhawatirkan, karena ia masih berupa hutan liar dan banyak jenis habitat (tumbuhan dan hewan) yang hidup di dalam hutan Pulau Sempu. Saya sendiri sangat takut dengan ular, dan berdoa sambil harap cemas bahwa jangan sampai di perjalanan ini kami bertemu dengan ular. Disamping itu, menurut cerita penduduk sekitar, dipercaya terdapat sebuah ular besar berbentuk naga tinggal dan hidup di Pulau Sempu. Dalam pikiran saya jika mitos itu benar, mungkin jenis binatang tersebut adalah anaconda, secara fisik anaconda mirip dengan deskripsi dari penduduk sekitar mengenai binatang tersebut, namun wallahualam, benar atau tidak yang penting itu masukan untuk berhati-hati saja karena di akhir perjalanan kami tidak menemukan satu jenis binatang apapun selain serangga.</p>
<p>Dalam perjalanan tersebut, kamipun mengalami rintangan yang tidak sedikit. Rintangan terbesar adalah jalan sepetak yang licin, yang membuat kami harus berjalan dengan hati-hati dan siap untuk saling membantu satu sama lain jika ada yang terpeleset. Rintangan lain adalah pohon besar yang tumbang yang menghalangi jalanan kami sehingga kami harus menanjak dan melompat dari pohon tersebut. Ukuran lebar pohon tersebut kira-kira sebesar 200 cm, sehingga dibutuhkan ekstra effort untuk melewatinya. Dugaan saya, pohon tersebut tumbang karena petir karena akar pohon tersebut terlihat kokoh dan kuat sehingga hanya petir yang dapat membuatnya tumbang. Kemudian, kami juga menemukan seperti kali berbentuk lubang besar yang hanya bisa disebrangi dengan jembatan yang terdiri dari dua petak batang pohon kayu yang kecil. Karena jembatan tersebut terlihat ringkih dan kecil maka kami harus melakukannya dengan hati-hati, kami harus berpengangan tangan satu dengan yang lain dan menapak sedikit demi sedikit dengan sangat amat hati-hati.</p>
<p>Setelah, melakukan perjalanan selama 1-1,5 jam, akhirnya kami menemukan bunyi suara air laut, kami semakin semangat dan yakin bahwa kami sudah mendekati tujuan, dan tidak lama setelah itu, Segara Anakan telah terlihat di</p>
<div id="attachment_100" class="wp-caption alignright" style="width: 217px"><img class="size-medium wp-image-100" title="SANY0094" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/sany0094.jpg?w=207&#038;h=155" alt="Segara Anakan" width="207" height="155" /><p class="wp-caption-text">Segara Anakan</p></div>
<p>samping kami. Kini, kami tinggal perlu menyusuri jalan sepetak untuk turun ke bawah dan sebelum itu kami menyempatkan diri untuk berfoto di ranting dan mengambil pemandangan Segara Anakan dari atas bukit tempat kami berjalan. Dari kejauhan, laguna itu terlihat begitu hijau dan bersih dengan suasana alam sekitar yang asri, dan ketika kami sampai di bawah, kami berteriak kegirangan dan tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Pemandangan begitu indah, dengan pasir putih dan laguna yang sangat bersih. Tidak ada sampah satupun, dan disana terdapat anak-anak Surabaya yang lagi camping dan bersiap pulang, sehingga menjadikan kami satu-satunya mahluk hidup yang ada di pulau tersebut sehingga seakan-akan Pulau Sempu seperti pulau pribadi kami.</p>
<p>Kamipun melepas lelah sekaligus makan siang, sehabis itu langsung snorkeling dan berenang. Untuk pemandangan bawah laut tidak begitu</p>
<div id="attachment_102" class="wp-caption alignleft" style="width: 238px"><img class="size-medium wp-image-102" title="PC290116" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/pc290116.jpg?w=228&#038;h=170" alt="Berenang di Tengah Lagoon" width="228" height="170" /><p class="wp-caption-text">Berenang di Tengah Lagoon</p></div>
<p>banyak karang dan ikan bagus yang bisa dilihat, namun berbeda dengan Karimun Jawa dan Anak Krakatau, dimana klimaks dan sensasi dari dua tempat tersebut adalah snorkeling, di Segara Anakan, sensasinya adalah berenang di laguna yang begitu asri dan bersih dengan dikelilingi bukit-bukit yang menutupinya dari laut selatan. Berenang disana serasa seperti berenang di kolam renang pribadi dengan ukuran yang sangat besar. Kami bebas bertingkah laku dan teriak sesuka kami. Lebih enak lagi, air disana adalah payau sehingga mata kami tidak seperih biasanya jika kami berenang di laut.</p>
<div id="attachment_101" class="wp-caption alignright" style="width: 229px"><img class="size-medium wp-image-101" title="DSC_0613" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/dsc_0613.jpg?w=219&#038;h=146" alt="Pemandangan Puncak Segara Anakan" width="219" height="146" /><p class="wp-caption-text">Pemandangan Puncak Segara Anakan. (diambil dari kamera Norman)</p></div>
<p>Kemudian, saya dan beberapa kawan mencoba untuk naik ke puncak bukit untuk melihat seperti apakah pemandangan di atas sana. Ternyata, kami menemukan, bahwa pemandangan di atas sangat menakjubkan, kami bisa melihat laut lepas terbentang sepanjang mata melihat. Kemudian, dari puncak kami bisa melihat Segara Anakan secara jelas. Ia begitu indah, saya sendiri merasa nyaman menghabiskan waktu beberapa jam untuk berada di puncak meskipun panas menyengat dan karang begitu tajam dan curam. Pemandangan itu tidak ternilai harganya, it&#8217;s priceless!! momen terbaik saya ketika berada di Segar Anakan adalah ketika saya naik ke puncak bukit tersebut, meskipun konsekuensinya kaki saya merah-merah, kulit gosong dan terbakar namun itu tidak sebanding dengan kenikmatan melihat pemandangan indah dari atas sana.</p>
<p>Sorepun menjelang dan kini tiba waktunya untuk pulang sebelum gelap tiba, sesampainya kembali di Sendang Biru barulah hujan mengundang, kemudian di dalam hati saya berpikir bahwa Allah SWT memang telah menakdirkan saya untuk berada di sana karena ketika kami menuju dan berada disana cuaca sangat cerah dan panas sekali, hujan baru turun ketika kami akan kembali ke Malang dari Sendang Biru.</p>
<div id="attachment_97" class="wp-caption alignleft" style="width: 241px"><img class="size-medium wp-image-97" title="DSC_0696" src="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/dsc_06961.jpg?w=231&#038;h=154" alt="Akhirnya Sampai Juga" width="231" height="154" /><p class="wp-caption-text">Akhirnya Sampai Juga. (diambil dari kamera Norman)</p></div>
<p>Hujan itu membuat hati saya menjadi agak melankolis, ketika naik ke mobil Kijang, saya melihat pulau sempu semakin menghilang seiring mobil melaju, dan saya hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT bahwa saya diberi kesempatan untuk hidup dan menyaksikan pemandangan yang sangat amat indah di tempat bernama Segara Anakan.</p>
<p style="text-align:left;">
<p><em>untuk melihat album foto Segara Anakan silahkan link ke:</em></p>
<p><em>http://www.facebook.com/home.php#/album.php?page=3&amp;aid=79348&amp;id=605892838</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=84&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/12/segara-anakan-yang-tak-terlupakan-dari-kota-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/sany0088.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SANY0088</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/sany0094.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SANY0094</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/pc290116.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">PC290116</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/dsc_0613.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0613</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tdipokusumo.files.wordpress.com/2009/10/dsc_06961.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0696</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peranan Penting Departemen SDM</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/peranan-penting-departemen-sdm/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/peranan-penting-departemen-sdm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 08:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;In many fast growing economies, it may be easier to access money and technology than good people. Competitive advantage belongs to companies that know how to attract, select, deploy and develop talent&#8221; - Ed Gubman, author of The Talent Solution Beberapa sahabat pernah menanyakan suatu pertanyaan yang menggelitik saya sebagai praktisi SDM, &#8216;Untuk apa sih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=74&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;In many fast growing economies, it may be easier to access money and technology than good people. Competitive advantage belongs to companies that know how to attract, select, deploy and develop talent&#8221; </em>- Ed Gubman, author of The Talent Solution</p>
<p>Beberapa sahabat pernah menanyakan suatu pertanyaan yang menggelitik saya sebagai praktisi SDM, &#8216;Untuk apa sih ada Departemen SDM?&#8217;. Sepengetahuan saya, pertanyaan itu bahkan tidak jarang muncul di benak para praktisi SDM itu sendiri.</p>
<p>Jawaban atas pertanyaan tersebut sebetulnya singkat, &#8216;to attract, develop and motivate talented employee&#8217;, itu fungsi utama Departemen SDM. Jika perusahaan anda ingin besar maka anda harus memiliki Departemen SDM yang tangguh, coba kita lihat semua perusahaan besar dunia, bisa dipastikan mereka pasti memiliki Departemen SDM yang tangguh.</p>
<p>Saat ini, peranan Departemen SDM menjadi sangat penting karena basis kekuatan ekonomi dunia mulai beralih ke pengetahuan (knowledge based economy). Pengetahuan sulit untuk diimitasi, ditiru apalagi dijiplak, pengetahuan juga lebih melekat kepada individu sehingga individu perlu dikelola dengan baik, disinilah peran penting Departemen SDM, ia harus menghasilkan tata kelola SDM dan organisasi yang baik sehingga individu dapat berkontribusi secara nyata dan termotivasi untuk senantiasa mengembangkan diri.</p>
<p>Bagaimana memandang peranan Departemen SDM tidak dapat dilepaskan dari konteks perkembangan basis kekuatan ekonomi yang terus berkembang dari waktu ke waktu.</p>
<p>Secara umum, dunia telah mengalami perubahan basis kekuatan ekonomi selama tiga periode, yaitu ekonomi berbasis agraris (agriculture based economy), ekonomi berbasis industri (industrial based economy), dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy).</p>
<p>Pada masa ekonomi berbasis agraria, teritori merupakan resource terpenting bagi kehidupan ekonomi suatu bangsa. Dengan demikian, salah satu prasyarat penting bagi kemajuan ekonomi suatu negara adalah luasnya penguasaan teritori. Inilah yang menjadi alasan mengapa pada sekitar abad 16 hingga awal abad 19, negara-negara besar Eropa banyak bersaing untuk mendapatkan koloni terutama di benua asia yang memang terkenal subur untuk pertanian. Dengan meluasnya wilayah jajahan mereka, maka mereka memiliki tanah yang semakin banyak untuk dikapitalisasikan ke produk-produk pertanian, dan dengan itu mereka bisa menjadi kaya raya, seperti Portugis dan Belanda ketika menjajah Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, korporasi belum tumbuh dan ekonomi pasar banyak dijalankan oleh kongsi sebagai institusi swasta dominan (contoh: VOC). Eksploitasi menjadi kekuatan utama dari penjajah untuk mengkapitalisasikan setiap jengkal tanah yang dimiliki, eksploitasi ini pada akhirnya menyuburkan gerakan-gerakan kemerdekaan di hampir setiap koloni akibat diskriminasi dan pelanggaran HAM yang dialami oleh penduduk asli (native).</p>
<p>Ekonomi berbasis agraria terus berjalan hingga manusia mulai menemukan mesin uap. Momentum itu merupakan awal dimulainya era ekonomi berbasis industri. Dalam era ini, tingkat keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu perusahaan ditentukan dari efisiensi dan efektifitas dari penggunaan resources yang mereka miliki, resources disini berupa 3 M (machine, money, man). Perusahaan berlomba-lomba untuk memiliki mesin produksi terbaik, dan tenaga manusia mulai mengerucut baik secara kuantitas dan kualitas.</p>
<p>Pada era ekonomi berbasis industri, peranan Departemen SDM mulai berkembang  secara bertahap.</p>
<p>Tahapan pertama, adalah administratif. Departemen SDM harus muncul sebagai administrator unggul, meskipun demikian mereka cenderung pasif dan program SDM hampir tidak memiliki keselarasan dengan kebutuhan pengembangan bisnis perusahaan. Di tahap ini, mereka seringkali dinamakan sebagai Personalia.</p>
<p>Tahapan kedua, adalah strategic partner. Seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan akan SDM yang terampil dan berkualitas menjadi semakin tinggi. Departemen SDM mulai dituntut untuk mendapatkan &#8216;the right man at the right place&#8217;, dan kualifikasi pekerjaan mulai menjadi sangat selektif, disamping itu kondisi pasar tenaga kerja (market labour) mulai memunculkan segmen profesi yang langka dan bernilai tinggi diakibatkan dari rendahnya supply berbanding demand. Dengan demikian, tuntutan pengelolaan SDM dalam hal attract dan retention menjadi semakin penting.</p>
<p>Kemudian, seiring berkembangnya teknologi dan informasi, basis kekuatan ekonomi kini beralih ke ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy). Disinilah kita berada sekarang.</p>
<p>Di era ini, inovasi dan kreatifitas merupakan prasyarat penting bagi perusahaan untuk terus bertumbuh dan berkembang. Pendapatan perusahaan tidak lagi hanya bergantung semata kepada efisiensi dan efektifitas terhadap penggunaan sumber daya seperti pada era ekonomi berbasis industri melainkan juga bergantung kepada inovasi dan kreatifitas secara berkelanjutan terhadap produk dan jasa yang mereka tawarkan. Inovasi bermuara dari pengetahuan, dan pengetahuan bermuara dari kualitas individu. Oleh sebab itu, individu harus dikelola dengan baik, ia harus dimotivasi untuk terus berkembang, talenta yang ia miliki harus bisa dikapitalisasikan, dan ia yang berkinerja tinggi harus dipertahankan.</p>
<p>Peranan Departemen SDM pun mulai beralih dari strategic partner ke performance consultant. Sebagai performance consultant, Departemen SDM menjadi tempat konsultasi bagi Manajer Lini untuk membahas berbagai solusi terhadap kualitas peningkatan kinerja di departemen mereka, mereka juga harus mampu menggagas perubahan secara kontinu dalam rangka menciptakan &#8216;ketidaknyamanan&#8217; agar setiap orang terus berkreasi dan berinovasi. Dengan demikian, dalam rangka mendukung perannya sebagai performance consultant, para praktisi SDM harus memiliki pemahaman yang baik terhadap bisnis perusahaan.</p>
<p>Pada era ekonomi berbasis ilmu pengetahuan, orang menjadi semakin realistis dan lebih individualistik, mereka lebih memperhatikan apakah mereka mendapatkan sebanding dengan yang mereka hasilkan, dengan demikian perpindahan tenaga kerja dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Kini, perusahaan banyak mengalami masalah retensi, dimana para top performance mereka &#8216;dibajak&#8217; dan yang masih tinggal adalah mereka yang &#8216;deadwood&#8217;.</p>
<p>Hal-hal tersebut di atas, adalah ekses dari ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam rangka mengantisipasi ekses ini perusahaan harus mulai memikirkan untuk mempertangguh Departemen SDM. Para praktisi Manajemen SDM kini memiliki peranan penting melebihi dari apa yang mereka ketahui.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=74&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/peranan-penting-departemen-sdm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menilik Peran Pemerintah Terhadap Korporasi</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/menilik-peran-pemerintah-terhadap-korporasi/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/menilik-peran-pemerintah-terhadap-korporasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Pemahaman mengenai peran pemerintah terhadap korporasi dapat dilihat dari dua mainstream. Pemahaman pertama, pemerintah harus meminimalkan intervensi dan tidak turut campur dalam kehidupan korporasi. Keyakinan ini didasari dari pemahaman klasik neo liberalisme bahwa pemerintah harus meminimalkan intervensi seminim mungkin terhadap pasar. Pasar akan mengkoreksi setiap distorsi yang terjadi di dalamnya, oleh sebab itu peran pemerintah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=71&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemahaman mengenai peran pemerintah terhadap korporasi dapat dilihat dari dua mainstream.</p>
<p>Pemahaman pertama, pemerintah harus meminimalkan intervensi dan tidak turut campur dalam kehidupan korporasi. Keyakinan ini didasari dari pemahaman klasik neo liberalisme bahwa pemerintah harus meminimalkan intervensi seminim mungkin terhadap pasar. Pasar akan mengkoreksi setiap distorsi yang terjadi di dalamnya, oleh sebab itu peran pemerintah tidak mutlak diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan pasar. Dengan demikian, korporasi sebagai aktor utama dari ekonomi pasar harus menjadi suatu institusi independen yang tidak boleh diatur dan diintervensi oleh pemerintah.</p>
<p>Pemahaman kedua, pemerintah harus turut campur dalam menciptakan dan mengatur mekanisme pasar. Beberapa ahli seperti John Maynard Keynes berpendapat ketika pasar mengalami distorsi pemerintah harus mengambil suatu tindakan dalam rangka menciptakan permintaan (demand) agar siklus kehidupan ekonomi suatu negara dapat terus berjalan. Dengan demikian, pemerintah harus dapat mengatur tingkah laku korporasi dalam rangka mengantisipasi distorsi pasar.</p>
<p>Kontradiksi diantara kedua pemahaman inipun seringkali berkembang dari perdebatan ekonomi menjadi perdebatan politik. Dalam pemilihan presiden di AS beberapa saat lalu, isu ini menjadi salah satu topik hangat mengingat ekonomi AS saat itu sedang krisis karena keserakahan beberapa korporasi besar. Di pemilihan presiden Indonesia pun, isu ini telah menjadi komoditas politik beberapa pihak untuk menjatuhkan pihak lain. Singkat kata, perdebatan ini memang tidak akan pernah mati, dan &#8216;kehangatan&#8217; perdebatan ini akan sangat ditentukan dari situasi ekonomi global dan lokal saat itu.</p>
<p>Akan tetapi, kita harus mengingat bahwa korporasi memang memiliki kecenderungan untuk berbuat &#8216;serampangan&#8217;. Menurut Bakan (2006), korporasi merupakan sebuah institusi patologis dengan daya destruktif yang besar dan berdampak merugikan bagi masyarakat.</p>
<p>Korporasi selalu memiliki cara untuk bebas dari seperangkat aturan dan hukum yang membatasi gerak-geriknya, salah satu cara adalah dengan melakukan lobi kepada politisi. Lobi-lobi itu terkadang diikuti oleh permainan politik uang dengan memberikan dana kampanye besar terhadap seorang politisi dengan harapan ketika ia terpilih akan menggunakan wewenang untuk mereformasi atau menderegulasikan setiap aturan dan hukum yang merugikan korporasi tersebut.</p>
<p>Bahwa korporasi memiliki daya destruktif ada benarnya, mengingat beberapa skandal besar seperti Enron, AIG, dan Lehman Brothers di Amerika dan Bank Bali, Bank Century di Indonesia.</p>
<p>Menurut Bakan, kasus-kasus tersebut terjadi karena secara sistem memang membuka peluang untuk memicu terjadinya kecurangan. Dengan demikian, perlu diadakan perubahan secara sistemik dengan mengutamakan reformasi melalui regulasi hukum dan kontrol demokratis. Peran penting pemerintah dalam hal ini adalah ia sebagai institusi pelayanan kepentingan publik memiliki kewajiban untuk menjadi inisiator dalam reformasi tersebut.</p>
<p>Untuk mendukung peran itu, pertama-tama adalah pemerintah tidak seharusnya dianggap sebagai &#8216;rekan&#8217; dari korporasi. Jika anda adalah rekan saya maka harus setara. Satu rekan tidak boleh memiliki kekuasaan lebih dari yang lain, tidak boleh mengatur pihak lain, tidak boleh melanggar kedaulatan pihak lain. Rekan seharusnya memiliki misi dan sasaran yang sama. Mereka harus bekerja bersama di dalam memecahkan masalah dan merencanakan serangkaian tindakan.</p>
<p>Akan tetapi, demokrasi mensyaratkan bahwa masyarakat, melalui pemerintah yang mereka pilih, memiliki kekuasaan atas korporasi, tidak setara dengan mereka, bahwa mereka memiliki otoritas untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh korporasi. Jika pemerintah adalah rekan bagi korporasi, maka masyarakat harus mencemaskan situasi demokrasi yang mereka hadapi, karena hal itu berarti bahwa pemerintah telah melepaskan kedaulatannya kepada korporasi. Korporasi tidak boleh berdiri sejajar dengan pemerintah, mereka harus berada di bawah pemerintah sebagai pelayan kepentingan publik, korporasi tidak boleh dibiarkan mengatur dirinya sendiri, karena tak seorangpun tentu akan menyarankan bahwa individu seharusnya mengatur dirinya sendiri, sehingga hukuman untuk pembunuhan, pencurian, pemerkosaan tidak diperlukan. Dengan demikian, kita tentu tidak begitu saja percaya bahwa korporasi harus dibiarkan bebas mengatur dirinya sendiri.</p>
<p>Permasalahan dalam skandal besar korporasi bukan terletak pada individu si pengambil keputusannya saja, ini bukan merupakan “hal yang jarang terjadi” dan bukan pula merupakan tiga buah jeruk busuk di dalam satu keranjang penuh jeruk. Ini adalah masalah sistem dan indikasi jelas terlihat bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi dalam sistem korporat mungkin jauh lebih besar daripada yang diindikasikan oleh guncangan pada wallstreet kemarin.</p>
<p>Dalam merespon masalah ini, maka ini merupakan momentum untuk kembali meninjau dan mereformasikan kembali sistem hukum yang baik, tidak terkecuali Indonesia. Di samping itu, korporasi harus merelakan untuk mulai diatur oleh seperangkat hukum yang justru akan melindungi keberlangsungan korporasi itu sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=71&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/menilik-peran-pemerintah-terhadap-korporasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Simplisitas vs Kompleksitas</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/simplisitas-vs-kompleksitas/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/simplisitas-vs-kompleksitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 04:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Human admire complexity even though they don’t understand it” -Jack Trout- Jika anda harus memilih antara berpikir secara kompleks atau berpikir secara simpel mana yang akan anda pilih? Saya tidak akan terkejut jika masih banyak orang, baik secara sadar maupun tidak sadar, memiliki pola pikir dan bertindak secara kompleks. Akan tetapi, kompleksitas hanya akan menimbulkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=64&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Human admire complexity even though they don’t understand it”</em><br />
-Jack Trout-</p>
<p>Jika anda harus memilih antara berpikir secara kompleks atau berpikir secara simpel mana yang akan anda pilih?</p>
<p>Saya tidak akan terkejut jika masih banyak orang, baik secara sadar maupun tidak sadar, memiliki pola pikir dan bertindak secara kompleks. Akan tetapi, kompleksitas hanya akan menimbulkan ketidakjelasan dalam penyampaian pesan. Saya termasuk orang yang sebisa mungkin untuk menghindar dari berpikir secara kompleks meskipun konsekuensinya saya mungkin akan dicap “dangkal”, “malas” dan “bodoh” oleh orang di sekitar saya. Akan tetapi telah menjadi keyakinan saya bahwa yang benar justru sebaliknya karena orang pintar pasti berpikir simpel dan saya selalu kagum kepada orang-orang yang berani bertindak dan berpikir simpel.</p>
<p>Mungkin telah menjadi habitat manusia untuk berpikir bahwa jika anda ingin dicap pintar anda harus dapat menyajikan sesuatu secara kompleks dan sulit dimengerti oleh orang lain. Namun, faktanya beberapa penemuan besar justru menjunjung tinggi prinsip simplisitas (simplicity) sehingga memudahkan orang lain untuk dapat mengerti dan memahami. Coba anda lihat penemuan Albert Einstein. Einstein adalah seorang jenius yang menciptakan sesuatu yang luar biasa melalui teori relativitasnya. Jika kita cermati, Einstein bisa membuat kreasi besar dengan cara yang sangat sederhana, lewat rumus yang mudah dimengerti orang: E = mc2. Hal serupa juga dilakukan oleh Sigmand Freud dengan penjelasan yang sangat sederhana mengenai manusia yang dibentuk oleh id-ego-superego. Mereka (orang-orang jenius itu) menyajikan semua pikirannya secara fokus dan mengabaikan hal-hal lain yang membuat sesuatu menjadi lebih kompleks.</p>
<p>Dalam konteks bisnis, simplisitas (simplicity) bisa menjadi suatu kekuatan bagi organisasi di dalam memenangi persaingan, saya percaya organisasi akan dapat bergerak lincah, bekerja dengan cepat dan mudah dalam merespon perubahan jika dapat menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membuang hal-hal yang kurang penting. Dengan demikian, organisasi yang kompleks perlu berbenah diri, suatu desain dan strategi yang simpel pasti akan lebih mudah untuk dikomunikasikan (clarity) dan dipahami oleh para aktor dalam perusahan tersebut.</p>
<p>Namun, sebagian orang mungkin bertanya, bukankah strategi yang simpel itu mudah ditiru? jawabannya adalah tidak masalah apakah strategi itu mudah ditiru atau tidak, karena setiap perusahaan yang menjalankan strategi yang sama belum tentu menghasilkan results yang sama. Hal ini karena, dalam pelaksanaan strategi tersebut, faktor resources terutama SDM akan menjadi variabel yang berpengaruh terhadap kesuksesan suatu strategi. Oleh sebab itu, masalahnya bukan apakah ia mudah ditiru, namun apakah ia mudah dipahami oleh mereka yang menjalankannya? disinilah peran penting dari simplisitas.</p>
<p>Salah satu tokoh bisnis yang amat saya kagumi karena keberaniannya dalam berpikir simpel adalah Jack Welch, mantan CEO General Electric (GE) yang menjadi legenda dalam literatur bisnis. Ide Welch dalam memimpin korporasi sebesar GE sangat sederhana dan mudah dicerna: menjadi nomor 1 atau nomor 2, jika tidak pilihannya cuma diperbaiki, ditutup atau dijual. Dalam buku autobiografinya (Jack Welch: Straight from The Gut), ia mengatakan bahwa keberhasilan GE tidak dicapai melalui suatu ide dan proses yang complicated melainkan dicapai lewat akumulasi waktu terhadap langkah-langkah yang sederhana. Welch mengatakan “anda mungkin tak percaya betapa tak mudahnya bagi manusia untuk berpikir dan bertindak sederhana. Orang-orang tidak mau melakukannya karena takut dibilang simple-minded, bodoh. Dalam realitas sesungguhnya sebaliknyalah yang benar. Orang yang cerdas dan bicaranya jelas adalah orang yang berpikir sangat sederhana”.</p>
<p>Analogi menarik mengenai simplisitas vs kompleksitas diuraikan dengan baik oleh Jim Collins melalui strategi landak atau hedgehog strategy. Simplisitas dapat dianalogikan dengan landak dan kompleksitas dapat dianalogikan dengan serigala. Serigala memang cerdik dan banyak akalnya, tetapi cara bekerjanya sangat kompleks. Kala melakukan serangan, serigala merangsek dari berbagai sisi, mencari titik serangan lewat berbagai taktik dan strategi. Dengan kata lain, serigala menganut banyak strategi dan banyak melakukan hal sia-sia. Sebaliknya, landak hanya memakai satu strategi. Ia mencecar mangsanya secara pasti dan begitu dapat ia langsung menerkam dan kembali ke sarang persembunyiannya. Ia tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak. Kala ia diserang ia hanya mengambil satu langkah saja, yaitu menggulung diri dengan seluruh tubuhnya yang dibaluti duri. Dengan melingkar demikian, tak ada satu hewanpun yang bisa menyerangnya. Landak hanya melakukan satu strategi, sehingga dengan demikian dibandingkan dengan serigala ia lebih memiliki “clarity” (kejelasan).</p>
<p>Para pemimpin bisnis besar seperti Welch dipandang oleh Collins sebagai penganut strategi landak dan tanpa keberanian untuk berpikir selayaknya seekor landak (dalam kata lain bertindak dan berpikir simpel), seorang Jack Welch tidak akan mampu mendulang prestasi besar seperti yang ia miliki saat ini. Dengan demikian, beranikanlah diri untuk berpikir simpel, karena simplisitas merupakan kunci menuju keberhasilan.</p>
<p>Mulai saat ini, mari kita membuat komitmen dalam diri kita masing-masing untuk berpikir simpel dengan selalu fokus dan membuang hal-hal yang tidak perlu, danjika kita menemui orang yang gemar berpikir dengan kompleks dan rumit, marilah kita memberranikan diri untuk mengatakan KISS (KEEP IT SIMPLE STUPID!!).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=64&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/simplisitas-vs-kompleksitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meletakkan Corporate Social Responsibility Dalam Kehidupan Korporasi</title>
		<link>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/meletakkan-corporate-social-responsibility-dalam-kehidupan-korporasi/</link>
		<comments>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/meletakkan-corporate-social-responsibility-dalam-kehidupan-korporasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 03:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tito Dipokusumo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis dan Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tdipokusumo.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia bisnis saat ini, corporate social responsibility (CSR) telah menjadi topik yang sedang &#8216;laku keras&#8217;, seakan-akan ia menjadi &#8216;primadona&#8217; dimana bagi setiap korporasi besar rasanya bisnis serasa kurang sreg apabila belum melakukan CSR. Untuk korporasi dalam ukuran besar, CSR dilakukan melalui dua cara, pertama dengan mendirikan yayasan, seperti yang dilakukan oleh Unilever dan Bank [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=38&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam dunia bisnis saat ini, corporate social responsibility (CSR) telah menjadi topik yang sedang &#8216;laku keras&#8217;, seakan-akan ia menjadi &#8216;primadona&#8217; dimana bagi setiap korporasi besar rasanya bisnis serasa kurang sreg apabila belum melakukan CSR. Untuk korporasi dalam ukuran besar, CSR dilakukan melalui dua cara, pertama dengan mendirikan yayasan, seperti yang dilakukan oleh Unilever dan Bank Mandiri, kedua dilakukan secara sendiri dengan fungsi tersebut dilaksanakan oleh Divisi atau Departemen Corporate Secretary.</p>
<p>Tujuan korporasi melakukan CSR adalah ingin membuktikan bahwa kehadiran mereka tidak hanya menghadirkan barang (goods) saja namun juga menghadirkan kebajikan (good). CSR seringkali dikembangkan melalui program yang dikemas secara menarik dengan memberikan pesan-pesan moral bernilai sosial tinggi.</p>
<p>Terkait masalah ini, ada pertanyaan menarik yang selalu diperdebatkan oleh praktisi, akademisi bahkan kalangan awam sekalipun mengenai bagaimana meletakkan CSR dalam kerangka kehidupan korporasi? apakah ia murni merupakan &#8216;tindakan sosial&#8217; ataukah ia merupakan &#8216;pemasaran terselubung&#8217;?</p>
<p>Jawaban saya adalah CSR bukan merupakan aksi filantropis murni, dalam arti menghambur-hamburkan uang murni dalam niatan sosial semata, namun ia juga bukan merupakan &#8216;pemasaran terselubung&#8217;, dalam artian ia harus menjadi suatu program win-win solution, program itu harus menghadirkan kebajikan bagi perusahaan dan masyarakat. Dengan demikian, ada dua syarat utama bagi suatu korporasi yang ingin menjalankan CSR, pertama adalah program CSR harus selaras (align) dengan core business mereka, kedua adalah program CSR harus menimbulkan kebajikan bagi stakeholder, khususnya masyarakat.</p>
<p>Dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi telah membuat korporasi tidak dapat melepaskan diri dari masyarakat sekitar, ia telah menjadi entitas, baik entitas ekonomi dan sosial dari masyarakat setempat sehingga manfaat kehadiran korporasi akan selalu dipertanyakan. Atas argumen inilah, maka saya mengatakan bahwa korporasi harus melakukan aksi CSR.</p>
<p>Akan tetapi, kita harus sadari bahwa di negara penganut sistem ekonomi pasar manapun, hukum korporasi selalu mengatur bahwa ia merupakan properti pemegang saham. Dengan demikian, korporasi memiliki tanggung jawab utama yaitu memaksimalkan nilai pemegang saham (shareholder&#8217;s value) melalui peningkatan pendapatan dan keuntungan. Oleh sebab itu, priotisasi aksi dan program korporat yang disusun secara tahunan oleh para direksi (Board of Directors/BoD) adalah aksi dan program yang dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan, bukan aksi dan program sosial. BoD bertanggung jawab dalam memastikan bahwa setiap uang yang dikeluarkan itu &#8216;well spent&#8217; atau menghasilkan return tinggi bagi korporasi. Atas dasar itu, maka CSR dilaksanakan dalam rangka mendukung pemenuhan tanggung jawab utama dari korporasi, yaitu memaksimalkan nilai pemegang saham.</p>
<p>Seorang pakar manajemen Peter Drucker bahkan pernah mengatakan &#8220;jika anda menemukan seorang manajer yang hanya sibuk mengerjakan tanggung jawab sosial, maka pecat dia!!&#8221;. Pendapat ini memang seakan terdengar kejam namun fakta berbicara bahwa jika korporasi dipenuhi oleh manajer bermental pekerja sosial maka korporasi tersebut akan menjadi tidak menarik di mata para pemegang saham.</p>
<p>Para &#8216;hardcore&#8217; kritikus sosial mungkin akan memandang bahwa CSR itu sekedar &#8216;pepesan kosong&#8217;, merupakan suatu tindakan dengan niat terselubung untuk sekedar menarik keuntungan, namun kita harus kembali mengingat bahwa hidup dan mati korporasi akan ditentukan dari seberapa menarik ia secara ekonomis bagi investor dan pemegang saham, dengan demikian penting bagi ia untuk selalu menjaga daya tariknya secara berkelanjutan, jika suatu korporasi mengalami kerugian tentu yang dirugikan adalah masyarakat juga. Namun, bagi para pebisnis yang memandang bahwa CSR itu merupakan pemborosan, mereka juga harus menyadari bahwa korporasi juga merupakan entitas sosial yang hidup di tengah masyarakat sehingga wajib hukumnya untuk bisa memberi kebajikan bagi masyarakat.</p>
<p>Dengan demikian, program CSR haruslah bersifat win-win, itulah program CSR yang jempolan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tdipokusumo.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tdipokusumo.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tdipokusumo.wordpress.com&amp;blog=9731579&amp;post=38&amp;subd=tdipokusumo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tdipokusumo.wordpress.com/2009/10/07/meletakkan-corporate-social-responsibility-dalam-kehidupan-korporasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3404e4241c035fc8f9effe21b7f8ba52?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tito</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
